4 Tipe personaliti + kita.....
♥ 1. Koleris
Pada umumnya, Koleris itu memiliki beberapa kelebihan, seperti :
* Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif..
* Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan..
* Berkemauan keras dan pasti untuk mencapai sasaran / target..
* Bebas dan mandiri..
* Berani menghadapi tantangan dan masalah..
* "Hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari sekarang"..
* Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat..
* Mendelegasikan pekerjaan dan orientasi berfokus pada produktivitas..
* Membuat dan menentukan tujuan..
* Terdorong oleh tantangan dan tantangan..
* Tidak begitu perlu teman..
* Mau memimpin dan mengorganisasi..
* Biasanya benar dan punya visi ke depan..
* Unggul dalam keadaan darurat..
≡ Namun, Koleris juga punya beberapa kelemahan, seperti :
* Tidak sabar dan cepat marah (kasar dan tidak taktis)..
* Senang memerintah..
* Terlalu bergairah dan tidak/susah untuk santai..
* Menyukai kontroversi dan pertengkaran..
* Terlalu kaku dan kuat/ keras..
* Tidak menyukai air mata dan emosi tidak simpatik..
* Tidak suka yang sepele dan bertele-tele / terlalu rinci..
* Sering membuat keputusan tergesa-gesa..
* Memanipulasi dan menuntut orang lain, cenderung memperalat orang lain..
* Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan..
* Workaholics (kerja adalah "tuhan"-nya)..
* Amat sulit mengaku salah dan meminta maaf..
* Mungkin selalu benar tetapi tidak populer..
♥ 2. Sangunis
Pada umumnya, orang-orang Sangunis memiliki personaliti sebagai berikut :
* Suka bicara..
* Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif..
* Antusias dan ekspresif..
* Ceria dan penuh rasa ingin tahu..
* Hidup di masa sekarang..
* Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan)..
* Berhati tulus dan kekanak-kanakan..
* Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara)..
* Umumnya hebat di permukaan..
* Mudah berteman dan menyukai orang lain..
* Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian..
* Menyenangkan dan dicemburui orang lain..
* Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam)..
* Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan..
* Menyukai hal-hal yang spontan..
≡ Sedangkan untuk kelemahan dari Sangunis :
* Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras)..
* Membesar-besarkan suatu hal / kejadian..
* Susah untuk diam..
* Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain..
* Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele..
* RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek)..
* Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias)..
* Mudah berubah-ubah..
* Susah datang tepat waktu..
* Prioritas kegiatan kacau..
* Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas..
* Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya..
* Egoistis..
* Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yang sama..
* Konsentrasi ke "How to spend money" daripada "How to earn/save money"..
♥ 3. Plegmatis
Sebagian besar, orang-orang Plegmatis memiliki personaliti seperti ini :
* Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh..
* Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik..
* Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana..
* Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi)..
* Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi..
* Penengah masalah yg baik..
* Cenderung berusaha menemukan cara termudah..
* Baik di bawah tekanan..
* Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan..
* Rasa humor yg tajam..
* Senang melihat dan mengawasi..
* Berbelaskasihan dan peduli..
* Mudah diajak rukun dan damai..
≡ Namun, ternyata orang yang berpersonaliti Plegmatis memiliki beberapa kekurangan, antara lain :
* Kurang antusias, terutama terhadap perubahan/ kegiatan baru..
* Takut dan khawatir..
* Menghindari konflik dan tanggung jawab..
* Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar)..
* Terlalu pemalu dan pendiam..
* Humor kering dan mengejek (Sarkatis)..
* Kurang berorientasi pada tujuan..
* Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri..
* Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat..
* Tidak senang didesak-desak..
♥ 4. Melankolis
Terakhir, untuk personaliti Melankolis. Kebanyakan, orang-orang melankolis adalah orang yang berpersonaliti sebagai berikut :
* Analitis, mendalam, dan penuh pikiran..
* Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal..
* Artistik, musikal dan kreatif (filsafat & puitis)..
* Sensitif..
* Mau mengorbankan diri dan idealis..
* Standar tinggi dan perfeksionis..
* Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi)..
* Hemat..
* Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif)..
* Kalau sudah mulai, dituntaskan..
* Berteman dengan hati-hati..
* Puas di belakang layar, menghindari perhatian..
* Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi..
* Sangat memperhatikan orang lain..
≡ Tapi, ternyata Melankolis punya kelemahan, seperti :
* Cenderung melihat masalah dari sisi negatif (murung dan tertekan)..
* Mengingat yang negatif & pendendam..
* Mudah merasa bersalah dan memiliki citra diri rendah..
* Lebih menekankan pada cara daripada tercapainya tujuan..
* Tertekan pada situasi yg tidak sempurna dan berubah-ubah..
* Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan (if..if..if..)..
* Standar yang terlalu tinggi sehingga sulit disenangkan..
* Hidup berdasarkan definisi..
* Sulit bersosialisasi..
* Tukang kritik, tetapi sensitif terhadap kritik/ yg menentang dirinya..
* Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang)..
* Rasa curiga yg besar (skeptis terhadap pujian)..
* Memerlukan persetujuan..
Ok, itu dia 4 Tipe personaliti yang ada di dalam diri manusia....
Jika kalian bingung, karena ada karakteristik kalian di beberapa
peronaliti, maka besar kemungkinan kalian memiliki 2 tipe
personaliti....
Hanya saja, pasti ada 1 tipe yang dominan. Nah, tipe yang dominan itulah karakteristik kalian....
Yah, jika kalian sudah tahu kelebihan maupun kekurangan diri sendiri,
pastilah mulai dari sekarang akan lebih mudah juga bagi kalian untuk
mengembangkan diri.....
All about my duty during college, sharing information and the last i do hope my blog can be useful for all of visitors...
Minggu, 03 Maret 2013
Senin, 14 Januari 2013
Agama Dan Masyarakat Tugas 10 (SoftSkill)
Agama Dan Masyarakat
AGAMA
Kaitan agama dengan masyarakat banyak dibuktikan
oleh pengetahuan agama yang meliputi penulisan sejarah dan figur nabi dalam
mengubah kehidupan sosial, argumentasi rasional tentang ati dan hakikat
kehidupan, tentang Tuhan dan kesadaran akan maut menimbulkan relegi dan sila
Ketuhanan Yang Maha Esa sampai pada pengalaman agama para tasauf.
Bukti-bukti itu sampai pada pendapat bahwaagama
merupakan tempat mencari makna hidup yang final dan ultimate. Agama yang
diyakini, merupakan sumber motivasi tindakan individu dalam hubungan sosialnya,
dan kembali pada konsep hubungan agama dengan masyarakat, di mana pengalaman
keagamaan akan terefleksikan pada tindakan sosial dan invidu dengan masyarakat
yang seharusnya tidak bersifat antagonis.
Peraturan agama dalam masyarakat penuh dengan
hidup, menekankan pada hal-hal yang normative atau menunjuk kepada hal-hal yang
sebaiknya dan seharusnya dilakukan.
Contoh kasus akibat tidak terlembaganya agama
adalah “anomi”, yaitu keadaan disorganisasi sosial di mana bentuk sosial dan
kultur yang mapan jadi ambruk. Hal ini, pertama, disebabkan oleh hilangnya
solidaritas apabila kelompok lama di mana individu merasa aman dan responsive
dengan kelompoknya menjadi hilang. Kedua, karena hilangnya consensus atau
tumbangnya persetujuan terhadap nilai-nilai dan norma yang bersumber dari agama
yang telah memberikan arah dan makna bagi kehidupan kelompok.
Fungsi Agama
Ada tiga aspek penting yang selalu dipelajari
dalam mendiskusikan fungsi agama dalam masyarakat, yaitu kebudayaan, sistem
sosial, dan kepribadian. Ketiga aspek itu merupakan kompleks fenomena sosial
terpadu yang pengaruhnya dapat diamati dalam perilaku manusia, sehingga timbul
pertanyaan sejauh mana fungsi lembaga agama memelihara sistem, apakah lembaga agama
terhadap kebudayaan adalah suatu sistem, atau sejauh mana agama dapat
mempertahankan keseimbangan pribadi melakukan fungsinya. Pertanyaan tersebut
timbul karena sejak dulu hingga sekarang, agama masih ada dan mempunyai fungsi,
bahkan memerankan sejumlah fungsi.
Manusia yang berbudaya, menganut berbagai nilai,
gagasan, dan orientasi yang terpola mempengaruhi perilaku, bertindak dalam
konteks terlembaga dalam lembaga situasi di mana peranan dipaksa oleh sanksi
positif dan negatif serta penolakan penampilan, tapi yang bertindak, berpikir
dan merasa adalah individu itu sendiri.
Teori fungsionalisme melihat agama sebagai
penyebab sosial agama terbentuknya lapisan sosial, perasaan agama, sampai
konflik sosial. Agama dipandang sebagai lembaga sosial yang menjawab kebutuhan
dasar yang dapat dipenuhi oleh nilai-nilai duniawi, tapi tidak menguntik
hakikat apa yang ada di luar atau referensi transdental.
Aksioma teori di atas adalah, segala sesuatu yang
tidak berfungsi akan hilang dengan sendirinya. Teori tersebut juga memandang
kebutuhan “sesuatu yang mentransendensikan pengalaman” sebagai dasar dari
karakteristik eksistensi manusia. Hali itu meliputi, Pertama, manusia hidup
dalam kondisi ketidakpastian juga hal penting bagi keamanan dan
kesejahteraannnya berada di luar jangkauan manusia itu sendiri. Kedua,
kesanggupan manusia untuk mengendalikan dan mempengaruhi kondisi hidupnya
adalah terbatas, dan pada titik tertentu akan timbul konflik antara kondisi
lingkungan dan keinginan yang ditandai oleh ketidakberdayaan. Ketiga, manusia
harus hidup bermasyarakat di mana ada alokasi yang teratur dari berbagai
fungsi, fasilitas, dan ganjaran.
Jadi, seorang fungsionalis memandang agama
sebagai petunjuk bagi manusia untuk mengatasi diri dari ketidakpastian,
ketidakberdayaan, dan kelangkaan; dan agama dipandang sebagai mekanisme
penyesuaian yang paling dasar terhadap unsur-unsur tersebut.
Fungsi agama terhadap pemeliharaan
masyarakat ialah memenuhi sebagian kebutuhan masyarakat. Contohnya adalaha
sistem kredit dalam masalah ekonomi, di mana sirkulasi sumber kebudayaan suatu
sistem ekonomi bergantung pada kepercayaan yang terjalin antar manusia, bahwa
mereka akan memenuhi kewajiban bersama dengan jenji sosial mereka untuk
membayar. Dalam hal ini, agama membantu mendorong terciptanya persetujuan dan
kewajiban sosial dan memberikan kekuatan memaksa, memperkuat, atau mempengaruhi
adat-istiadat.
Fungsi agama dalam pengukuhan
nilai-nilai bersumber pada kerangka acuan yang bersifat sakral, maka norma
pun dikukuhkan dengan sanksi sakral. Sanski sakral itu mempunyai kekuatan
memaksa istimewa karena ganjaran dan hukumannya bersifat duniawi,
supramanusiawi, dan ukhrowi.
Fungsi agama di sosial adalah fungsi
penentu, di mana agama menciptakan suatu ikatan bersama baik antara
anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial
yang mempersatukan mereka.
Fungsi agama sebagai sosialisasi
individu adalah, saat individu tumbuh dewasa, maka dia akan membutuhkan
suatu sistem nilai sebagai tuntunan umum untuk mengarahkan aktifitasnya dalam
masyarakat. Agama juga berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan
kepribadiannya. Orang tua tidak akan mengabaikan upaya “moralisasi”
anak-anaknya, seperti pendidikan agama mengajarkan bahwa hidup adalah untuk
memperoleh keselamatan sebagai tujuan utamanya. Karena itu, untuk mencapai
tujuan tersebut harus beribadah secara teratur dan kontinu.
Masalah fungsionalisme agama dapat dianalisis
lebih mudah pada komitmen agama. Menurut Roland Robertson (1984),
dimensikomitmen agama diklasifikasikan menjadi :
a.Dimensi keyakinan mengandug perkiraan atau
harapan bahwa orang yang religius akan menganut pandangan teologis tertentu,
bahwa ia akan mengikuti kebenaran ajaran-ajaran tertentu.
b.Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan
memuja dan berbakti, yaitu perbuatan untuk melaksanakan komitmen agama secra
nyata. Ini menyangkut hal yang berkaitan dengan seperangkat upacara keagamaan,
perbuatan religius formal, perbuatan mulia, berbakti tidak bersifat formal,
tidak bersifat publik dan relatif spontan.
c.Dimensi pengalaman memperhitungkan fakta, bahwa
semua agama mempunyai perkiraan tertentu, yaitu orang yang benar-benar religius
pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan yang langsung dan subjektif tentang
realitas tertinggi, mampu berhubungan dengan suatu perantara yang supernatural
meskipun dalam waktu yang singkat.
d.Dimensi pengetahuan dikaitkan dengan perkiraan
bahwa orang-orang yang bersikap religius akan memiliki informasi tentang
ajaran-ajaran pokok keyakinan dan upacara keagamaan, kitab suci, dan tradisi-tradisi
keagamaan mereka.
e.Dimensi konsekuensi dari komitmen religius
berbeda dengan tingkah laku perseorangan dan pembentukan citra pribadinya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
memiliki konsekuensi paling penting bagi agama. Akibatnya adalah masyarakat
makin terbiasa menggunakan metode empiris berdasarkan penalaran dan efisiensi
dalam menanggapi masalh kemanusiaan, sehingga lingkungan yang bersifat sekular
semakin meluas dan sering kali dengan pengorbanan lingkungan yang sakral.
Menurut Roland Robertson, watak masyarakat sekular tidak terlalu memberikan
tanggapan langsung terhadap agama. Misalnya, sediktnya peranan dalam pemikiran
agama, praktek agama, dan kebiasaan-kebiasaan agama.
Umumnya, Kecenderungan sekularisasi mempersempit
ruang gerak kepercayaan-kepercayaan dan pengalaman-pengalaman keagamaan yang
terbatas pada aspek yang lebih kecil dan bersifat khusus dalam kehidupan
masyarakat dan anggota-anggotanya.
Hal itu menimbulkan pertanyaan apakahan
masyarakat sekuler mampu mempertahankan ketertiban umum secara efektif tanpa
adanya kekerasan institusional apabila pengaruh agama sudah berkurang.
Perkembangan Agama Dan Masyarakat
a.Masyarakat yang Terbelakang dan Nilai-nilai Sakral
Masyarakat tipe ini kecil, terisolasi, dan
terbelakang. Anggota masyarakatnya menganut agama yang sama. Sebab itu,
keanggotaan mereka dalam masyarakat dan dalam kelompok keagamaan adalah sama.
Agama menyusup ke dalam kelompok aktivitas yang lain. Sifat-sifatnya:
- Agama memasukkan pengaruhnya yang sakral ke dalam sistem masyarakat secara mutlak.
- Nilai agama sering meningkatkan konservatisme dan menghalangi perubahan dalam masyarakat dan agama menjadi fokus utama pengintegrasian dan persatuan masyarakat secra keseluruhan yang berasal dari keluarga yang belum berkembang.
b.Mayarakat-masyarakat Praindustri yang Sedang
Berkembang
Masyarakatnya tidak terisolasi, ada perkembangan
teknologi. Agama memberi arti dan ikatan kepada sistem nilai dalam tiap
masyarakat, pada saat yang sama, lingkungan yang sakral dan yang sekular masih
dapat dibedakan. Fase kehidupan sosial diisi dengan upacara-upacara tertentu.
Di pihak lain, agama tidak memberikan dukungan sempurna terhadap aktivitas
sehari-hari, agama hanya memberikan dukungan terhadap adat-istiadat.
Pendekatan rasional terhadap agama dengan penjelasan
ilmiah biasanya akan mengacu dan berpedoman pada tingkah laku yang sifatnya
ekonomis dan teknologis dan tentu akan kurang baik. Karena adlam tingkah laku,
tentu unsur rasional akan lebih banyak, dan bila dikaitkan dengan agama yang
melibatkan unsur-unsur pengetahuan di luar jangkauan manusia (transdental),
seperangkat symbol dan keyakinan yang kuat, dan hal ini adalah keliru. Karena
justru sebenarnya, tingkah laku agama yang sifatnya tidak rasional memberikan
manfaat bagi kehidupan manusia.
Agama melalui wahyu atau kitab sucinya memberikan
petunjuk kepada manusia untuk memenuhi kebutuhan mendasar, yaitu selamat di
dunia dan akhirat. Dalam perjuangannya, tentu tidak boleh lalai. Untuk
kepentingan tersebut, perlu jaminan yang memberikan rasa aman bagi pemeluknya.
Maka agama masuk dalam sistem kelembagaan dan menjadi sesuatu yang rutin. Agama
menjadi salah satu aspek kehiduapan semua kelompok sosial, merupakan fenomena
yang menyebar mulai dari bentuk perkumpulan manusia, keluarga, kelompok kerja,
yang dalam beberapa hal penting bersifat keagamaan.
Adanya organisasi keagamaan, akan meningkatkan
pembagian kerja dan spesifikasi fungsi,juga memberikan kesempatan untuk
memuaskankebutuhan ekspresif dan adatif.
Pengalaman tokoh agama yang merupakan pengalaman
kharismatik, akan melahirkan suatu bentuk perkumpulan keagamaan yang akan
menjadi organisasi keagamaan terlembaga. Pengunduran diri atau kematian figure
kharismatik akan melahirkan krisis kesinambungan. Analisis yang perlu adalah
mencoba memasukkan struktur dan pengalaman agama, sebab pengalaman agama,
apabila dibicarakan, akan terbatas pada orang yang mengalaminya. Hal yang
penting untuk dipelajari adalah memahami “wahyu” atau kitab suci, sebab lembaga
keagamaan itu sendiri merupakan refleksi dari pengalaman ajaran wahyunya.
Lembaga keagamaan pada puncaknya berupa peribadatan,
pola ide-ide dan keyakinan-keyakinan, dan tampil pula sebagai asosiasi atau
organisasi. Misalnya pada kewajiban ibadah haji dan munculnya organisasi
keagamaan.
Lembaga ibadah haji dimulai dari terlibatnya berbagai
peristiwa. Ada nama-nama penting seperti Adam a.s, Ibrahim a.s, Siti Hajar, dan
juga syetan; tempatnya adalah Masjidil-Haram, Mas’a, Arafah, Masy’ar, Mina,
serta Ka’bah yang merupakan symbol penting; ada peristiwa kurban, pakaian
ihram, tawaf, sa’I, dan sebagainya.
Adam dan Hawa dalam keadaan terpisah, kemudian
keduanya berdoa : “Ya, Tuhan kami, kami telah menganiaya diri sendiri, dan jika
engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscayalah kami
termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S al-A’raf : 23).
Setelah itu Allah SWT memerintahkan Adam untuk ibadah
haji (pergi ke sesuatu untuk mengunjunginya). Saat sampai di suatu tempat
(Arafah= tahu, kenal), maka bertemulah ia dengan Hawa setelah diusir dari
surge. Sebab itu dalam pelaksanaan ibadah haji, ada ketentuan wukuf (singgah).
Nama nabi Ibrahim a.s selalu dikaitkan dengan Ka’bah
sebagai pusat rohani agama Islam (Kiblatnya Islam). Pada suatu peristiwa Allah
memerintahkan Jibril membawa Ibrahim a.s, Siti Hajar dan Ismail a.s putranya
yang masih kecil ke Makkah dari Palestina. Di suatu tempat, Ibrahim a.s atas
perintah Allah SWT supaya meninggalkan istri dan putranya. Kemudian Ismail
menangis meminta air, tentu saja Siti Hajar menjadi khawatir dan gelisah, maka
ia pun berlari mencari air ke bukit Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali.
Setelah itu dengan kuasa Tuhan, memancarlah air dari
dekat kaki Ismail (sekarang sumur air Zam-zam). Sebab itu, dalam rukun Haji ada
Sa’I (berlari kecil) sebanyak tujuh kali di bukit Shafa dan Marwa. Siti Hajar
merupak lambang yang bertanggung jawab, tidak pasrah, perjuangan fisik dan
meniadakan diri tenggelam ke dalam samudera cinta.
Kurban dikaitkan resmi dengan ibadah haji. Lembaga ini
berhubungan dengan sejarah rohani Ibrahim a.s yang diperintahkan oleh Alla SWT
untuk menyembelih putranya Ismail a.s, untuk menguji kesempurnaan tauhidnya.
Sewaktu penyembelihan akan dilaksanakan, syetan sempat menggoda Ibrahim a.s
agar tidak melaksanakan perintah Allah tersebut. Kemudian Ibrahim dan Ismail
melemparkan batu ke arah suara syetan itu berasal. Untuk mengenang peristiwa
itu, dalam pelaksanaan ibadah haji diwajibkan melempar jumrah (batu).
Sewaktu Ismail akan disembelih oleh Ibrahim a.s,
ternyta Allah menggantinya dengan seekor gibas (domba) jantan. Firman Allah :
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu bagi orang yang
sanggup mengadakan perjalanan pergi kesana. Barang siapa yang kafir (terhadap
kewajiban haji), maka bahwasanya Allah Mahakuasa (tidak memerlukan sesuatu dari
alam semesta)” (Q.S 3:97).
Jadi, kewajiban tersebut, esensinya adalah evolusi
manusia menuju Allah dengan pengalaman agama yang penting. Mengandung simbolis
dari filsafat “pencptaan Adam”, “sejarah”, “keesaan”, “ideology islam”, dan “ummah”.
Organisasi keagamaan yang tumbuh secara khusus,
bermula dari pengalaman agama tokoh kharismatik pendiri organisasi keagamaan
yang terlembaga.
Muhammadiyah, sebuah organisasi sosial Islam yang
dipelopori oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan yang menyebarkan pemikiran Muhammad
Abduh dari Tafsir Al-Manar. Ayat suci Al-Quran telah memberi inspirasi kepada
Ahmad Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah. Salah satu mottonya adalah,
Muhammadiyah diapandang sebagai “segolongan dari kaum” mengajak pada kebaikan
dan mencegah perbuatan jahat (amar ma’ruf, nahi ’anil munkar)
Dari contoh sosial di atas, lembaga keagamaan
berkembang sebagai pola ibadah, pola ide-ide, ketentuan (keyakinan), dan tampil
sebagai bentuk asosiasi atau organisasi. Pelembagaan agama puncaknya terjadi pada
tingkat intelektual, tingkat pemujaan (ibadat), dan tingkat organisasi.
Tampilnya organisasi agama adalah akibat adanya
“perubahan batin” atau kedalaman beragama, mengimbangi perkembangan masyarakat
dalam hal alokasi fungsi, fasilitas, produksi, pendidikan, dan sebagainya.
Agama menuju ke pengkhususan fungsional. Pengaitan agama tersebut mengambil
bentuk dalam berbagai corak organisasi keagamaan.
Kemiskinan Dan Spiritualitas Agama
Menurut ajaran Islam ada dua macam kebebasan yang
paling mendasar, pertama yaitu kebebasan dari ketakutan (freedom from fear)
yang meliputi bebas dari rasa takut, dari tekanan, intervensi, eksploitasi,
dominasi kekuasaan dan membutuhkan rasa aman. Kedua, kebebasan dari kkelaparan
(freedom from hunger). Landasan ini tersurat dan tersirat dalam QS.
Quuraisy : 4 : “yang telah memberikan makanan kepada mereka untuk menghilangkan
lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan.”. Sebagaimana diungkapkan
oleh Dawan Rahardjo (2000), kebutuhan akan rasa aman adalah prasyarat bagi
kebebasan dari kelaparan, karena tanpa rasa aman mustahil manusia bisa bekerja
dengan tenangwalaupun terdapat kemauan untuk melakukan ekonomisasi (the will
to economize).
Dalam hadis Rasulullah, bekerja terus demi mencari
rezeki yang halal merupakan bentuk jihad dalam bidang ekonomi yang diwajibkan
kepada setiap orang.. Bekerja dan beraktifitas mencari nafkah bukan semata-mata
urusan materi yang sifatnya profan. Namun sebenarnya memilki signal penghubung
kepada ruang ruhani yang sakral. Mereka yang bekerja keras membanting tulang,
demi menghidupi dirinya, keluarganya bahkan lebihnya untuk zakat,
sedekah, infak dan amal-amal sosial lainnya, sesungguhnya telah memasuki
ruang-ruang kesadaran spiritual. Kesaksian akan kemurahan Tuhan, segala potensi
alam, tenaga, pikiran dan hati menyatu menyambut getaran illahi.
Sehingga kemiskinan dalam islam merupakan hal yang
tabu, karena Allah Yang Maha Adil, memberikan modal kepada seluruh
umatnya untuk dikembangkan sesuai dengan konteks ruang dan zaman yang dihadapi
untuk bertebaran mencari kehidupan dan penghidupan. Mereka yang hidup di daerah
agraris, bekerja sebagai petani, yang hidupnya di daerah laut diberikan
pengetahuan teknologi sebagai nelayan. Perkembangan musim dingin dan musim
kemarau, juga menjadi perhitungan Tuhan agar manusia memilki kearifan
naturalistik dalam bekerja, berkarya dan berpikir, yang menghasilkan materi,
ilmu pengetahuan dan teknologi.
sumber daya alam yang ada di bumi adalah milik Allah
yang diamanahkan kepada manusia selaku wakil Tuhan di muka bumi, untuk
dikelolah demi kemaslahatan bersama umat manusia, tanpa ada unsur keserakahan,
ketidakadilan, dominasi satu pihak terhadap pihak lainnya. sampai disini,
mulailah kita bertanya, mengapa kemiskinan di negara kita bahkan di dunia
terjadi, bahkan mmenjadi ancaman bagi masa depan peradaban? Karena manuusia
telah kehilangan “Iman”, yang menyebabkan tidak “amanah”, dan membuat kehidupan
tidak “aman”. Para pemegang amanah telah keluar dari jalan keadilan dan
kemaslahatan yang menyebabkan hilangnya kebahagiaan.
Syariat atau pedoman yang telah digariskan Tuhan telah
dicampakan diganti dengan eksploitasi, dominasi dan arogansi dari yang berkuasa
terhadap yang lemah. dalam bahasanya Arthur Lewis, penerimah hadiah nobel
ekonomi tahun 1978, perekonomian membutuhkan kode etik.sehingga tidak ada yang
dirugikan sesama hamba Tuhan, yang juga sama-sama memiliki hak memanfaatkan dan
memakmurkan alam semesta. Etika ekonomi tidak hanya mengatur hubungan kerja
mekanis, untung rugi antar manusia dengan manusia dalam hal produksi, konsumsi
dan distribusi. Namun lebih dari itu, kode etik menyangkut hak dan kewajiban
manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan. Aktivitas ekonomi inilah yang
pada akhirnya melahirkan nilai-nilai spiritualitas Ketuhanan, harmonisasi alam
dan manusia.
Kemiskinan bukan merupakan takdir Tuhan, akan tetapi
merupakan efek keserakahan penguasa, pemilik modal dan para kapitalis sesat,
sehingga agama wajib ikut memberikan perlawanan terhadapnya. Spirit agama untuk
mmewujudkan keadilan ekonomi, menjamin dari rasa aman dan kelaparan harus tetap
direbut dari para penghalangnya. Jihad dalam agama bukan saja membela kesucian
Tuhan, karena Tuhan sesungguhnya Maha Suci (Al Quds), membela keagungan
Tuhan, tetapi Tuhan adalah Maha Agung (Al adhim). Namun, jihad yang
sejati juga melawan sistem yang memiskinkan diri kita, memiskinkan rakyat,
agama dan negara kita.
Jihad yang seperti ini diconthkan Rasulullah dalam
membangun peradaban Madinah yang dikenal memuat nilai-nilai demokratis,
pluralis, egaliterian serta adil dan makmur. Etos perdagangan yang menjadi ikon
bangsa Arab tidak dibubarkan oleh Rasulullah, tetapi disuntuk dengan spirit
islam sehingga perdagangan masyarakat Madinah memilki tradisi
spiritual-transendental. Sistem riba dihapuskan diganti dengan jual beli
yang saling tolong menolong, saling menguntungkan dengan jalan yang halal,
pemerataan dan kesejahteraan.
Agama-agama lain, sebagaimana pengalaman
negara-negara tetangga, membuktikan bahwa agama mampu mengentaskan
masyarakatnya dari kemiskinan. Ternyata kemiskinan banyak mengantarkan umatnya
dalam jurang kekufuran. gara-gara kelaparan agama ditukarkan dengan beras,
sebagaimana kasus kemiskinan Gunungkidul. Brazil dengan gerakan Pantescotal Dan
Christian Base Communities (CEB), berhasil memanfaatkan agama sebagai
pemberantas kemiskinan dan juga etika Protestan walaupun kebablasan, yang
mendorong pertumbuhan ekonomi sebagaimana diungkap Max Weber dalam “The
Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism“. Dengan iman mari bebaskan
diri kita, saudara kita dan negara kita dari hantu kemiskinan.
Sumber:http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/09/22/kemiskinan-dan-spiritualitas-agama-397526.html
Ilmu Pengetahuan Teknologi Dan Kemiskinan Tugas 9 (SoftSkill)
ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI
DAN KEMISKINAN
ILMU
PENGETAHUAN TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN
Ilmu (atau
ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan
meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.
Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu
memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian
ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu bukan
sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan
berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji
dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang
dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh
mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari
epistemologi.
Contoh: Ilmu
Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang
bahani (materiil saja) atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku
manusia jika membatasi lingkup pandangannya ke dalam segi umum dari perilaku
manusia yang kongkrit. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab
pertanyaan tentang berapa jauhnya matahari dari bumi, atau ilmu psikologi
menjawab apakah seorang pemudi sesuai untuk menjadi perawat.
Sikap Ilmiah
Scientist
atau Sikap ilmiah dimana ilmuwan mempelajari gejala-gejala alam melalui
observasi, eksperimentasi dan analisis yang rasional. Ia menggunakan
sikap-sikap tertentu (Scientific attitudes). Sikap-sikap tersebut antara lain :
1. Jujur
Seorang ilmuwan wajib melaporakan hasil pengamatan secara objektif. Dalam kehidupan sehari-hari mungkin saja ia tidak jujur dari manusia lain, tetapi dalam hal penelitian ia harus sejujur-jujurnya dalam melaporkan penelitiannya.
2. Terbuka
Seorang ilmuwan mempunyai pandangan luas, terbuka dan bebas dari praduga. Ia tidak akan meremehkan suatu gagasan baru. Ia akan menghargai setiap gagasan baru dan mengujinya sebelum menerima/ menolaknya. Jadi ia terbuka akan pendapat orang lain.
3. Toleran
Seorang ilmuwan tidak merasa bahwa ia paling hebat. Ia bersedia mengakui bahwa orang lain mungkin mempunyai pengetahuan yang lebih luas, atau mungkin saja pendapatnya bisa salah. Dalam belajar menambah ilmu pengetahuan ia bersedia belajar dari orang lain, membandingkan pendapatnya dengan pendapat orang lain, serta tidak memaksakan suatu pendapat kepada orang lain.
4. Skeptis
Ilmuwan dalam mencari kebenaran akan bersikap hati-hati, meragui, dan skeptis. Ia akan menyalidiki bukti-bukti yang melatarbelakangi suatu kesimpulan. Ia akan bersikap kritis untuk memperoleh data yang menjadi dasar suatu kesimpulan tanpa didukung bukti-bukti yang kuat.
1. Jujur
Seorang ilmuwan wajib melaporakan hasil pengamatan secara objektif. Dalam kehidupan sehari-hari mungkin saja ia tidak jujur dari manusia lain, tetapi dalam hal penelitian ia harus sejujur-jujurnya dalam melaporkan penelitiannya.
2. Terbuka
Seorang ilmuwan mempunyai pandangan luas, terbuka dan bebas dari praduga. Ia tidak akan meremehkan suatu gagasan baru. Ia akan menghargai setiap gagasan baru dan mengujinya sebelum menerima/ menolaknya. Jadi ia terbuka akan pendapat orang lain.
3. Toleran
Seorang ilmuwan tidak merasa bahwa ia paling hebat. Ia bersedia mengakui bahwa orang lain mungkin mempunyai pengetahuan yang lebih luas, atau mungkin saja pendapatnya bisa salah. Dalam belajar menambah ilmu pengetahuan ia bersedia belajar dari orang lain, membandingkan pendapatnya dengan pendapat orang lain, serta tidak memaksakan suatu pendapat kepada orang lain.
4. Skeptis
Ilmuwan dalam mencari kebenaran akan bersikap hati-hati, meragui, dan skeptis. Ia akan menyalidiki bukti-bukti yang melatarbelakangi suatu kesimpulan. Ia akan bersikap kritis untuk memperoleh data yang menjadi dasar suatu kesimpulan tanpa didukung bukti-bukti yang kuat.
5. Optimis
Seorang ilmuwa selalu berpengharapan baik. Ia tidak akan berkata bahwa sesuatu itu tidak dapat dikerjakan, tetapi akan mengatakan “ Berikan saya kesempatan untuk memikirkan dan mencoba mengerjakan “.
6. Pemberani
Ilmuwan sebagai pencari kebenaran harus berani melawan semua kesalahan, penipuan, kepura-puraan, kemunafikan dan kebatilan yang akan menghambat kemajuan.
7. Kreatif
Ilmuwan dalam mengembangkan ilmunya harus selalu kreatif agar terlihat lebih menarik.
Seorang ilmuwa selalu berpengharapan baik. Ia tidak akan berkata bahwa sesuatu itu tidak dapat dikerjakan, tetapi akan mengatakan “ Berikan saya kesempatan untuk memikirkan dan mencoba mengerjakan “.
6. Pemberani
Ilmuwan sebagai pencari kebenaran harus berani melawan semua kesalahan, penipuan, kepura-puraan, kemunafikan dan kebatilan yang akan menghambat kemajuan.
7. Kreatif
Ilmuwan dalam mengembangkan ilmunya harus selalu kreatif agar terlihat lebih menarik.
Teknologi
Teknologi
merupakan satu konsep yang luas dan mempunyai lebih daripada satu takrifan.
Takrifan yang pertama ialah pembangunan dan penggunaan alatan, mesin, bahan dan
proses untuk menyelesaikan masalah manusia.
Istilah
teknologi selalunya berkait rapat dengan rekaan dan gadget menggunakan prinsip
sains dan proses terkini. Namun, rekaan lama seperti tayar masih menunjukkan
teknologi.
Maksud yang
kedua digunakan dalam bidang ekonomi, yang mana teknologi dilihat sebagai tahap
pengetahuan semasa dalam menggabungkan sumber bagi menghasilkan produk yang
dikehendaki. Oleh itu, teknologi akan berubah apabila pengetahuan teknikal kita
berubah.
Takrifan
teknologi yang diguna pakai di sekolah-sekolah dan institusi-insitusi pengajian
tinggi di Malaysia ialah aplikasi pengetahuan sains yang boleh memanfaatkan
serta menyelesaikan masalah manusia yang dihadapi dalam kehidupan seharian.
Ciri-ciri
fenomena teknik pada masyarakat :
- Rasionalitas, artinya tidakan spontan oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional
- Artifisialitas, artiya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah
- Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi da rumusan dilaksanakan secara otomatis. Demikian juga dengan teknik mampu mengeliminasikan kegiatan non teknis menjadi kegiatan teknis
- Teknik berkembang pada suatu kebudayaan
- Monisme artiya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung
- Universalisme. artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan
- Otonomi, artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip
Hubungan
Ilmu dengan Nilai-nilai Hidup
Penerapan
ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan
dan mempunyai pengaruh terhadap proses perkembangan lebih lanjut ilmu dan
teknologi. Tanggung jawab etis merupakan sesuatu yang menyangkut kegiatan
keilmuan maupun penggunaan ilmu, yang berarti dalam pengembangannya harus
memperhatikan kodrat dan martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem,
bersifat universal, bertanggungjawab pada kepentingan umum, dan kepentingan
generasi mendatang.
Tanggung
jawab ilmu menyangkut juga hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu dimasa
lalu, sekarang maupun akibatnya di masa mendatang, berdasarkan keputusan bebas
manusia dalam kegiatannya. Penemuan baru dalam ilmu terbukti ada yang dapat
mengubah sesuatu aturan nilai-nilai hidup baik alam maupun manusia. Hal ini
tentu menuntut tanggung jawab untuk selalu menjaga agar yang diwujudkan dalam
perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang terbaik bagi perkembangan ilmu
itu sendiri maupun bagi perkembangan eksistensi manusia secara utuh.
Tanggung
jawab etis tidak hanya menyangkut upaya penerapan ilmu secara tepat dalam
kehidupan manusia, melainkan harus menyadari apa yang seharusnya dilakukan atau
tidak dilakukan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia seharusnya,
baik dalam hubungannya sebagai pribadi, dalam hubungan dengan lingkungannya
maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap Khaliknya.
Jadi
perkembangan ilmu akan mempengaruhi nili-nilai kehidupan manusia tergantung
dari manusianya itu sendiri, karena ilmu dilakukan oleh manusia dan untuk
kepentingan manusia dalam kebudayaannya. Kemajuan di bidang ilmu memerlukan
kedewasaan manusia dalam arti yang sesungguhnya, karena tugas terpenting ilmu
adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat bersungguh-sungguh mencapai
pengertian tentang martabat dirinya.
Mengapa Ilmu
Tidak Dapat Terpisahkan dengan Nilai-nilai Hidup
Ilmu dapat
berkembang dengan pesat menunjukkan adanya proses yang tidak terpisahkan dalam
perkembangannya dengan nilai-nilai hidup. Walaupun ada anggapan bahwa ilmu
harus bebas nilai, yaitu dalam setiap kegiatan ilmiah selalu didasarkan pada
hakikat ilmu itu sendiri. Anggapan itu menyatakan bahwa ilmu menolak campur
tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu itu sendiri,
yaitu ilmu harus bebas dari pengandaian, pengaruh campur tangan politis,
ideologi, agama dan budaya, perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu
terjamin, dan pertimbangan etis menghambat kemajuan ilmu.
Pada
kenyataannya, ilmu bebas nilai dan harus menjadi nilai yang relevan, dan dalam
aktifitasnya terpengaruh oleh kepentingan tertentu. Nilai-nilai hidup harus
diimplikasikan oleh bagian-bagian praktis ilmu jika praktiknya mengandung
tujuan yang rasional. Dapat dipahami bahwa mengingat di satu pihak objektifitas
merupakan ciri mutlak ilmu, sedang dilain pihak subjek yang mengembangkan ilmu
dihadapkan pada nilai-nilai yang ikut menentukan pemilihan atas masalah dan
kesimpulan yang dibuatnya.
Setiap
kegiatan teoritis ilmu yang melibatkan pola subjek-subjek selalu mengandung
kepentingan tertentu. Kepentingan itu bekerja pada tiga bidang, yaitu pekerjaan
yang merupakan kepentingan ilmu pengetahuan alam, bahasa yang merupakan
kepentingan ilmu sejarah dan hermeneutika, dan otoritas yang merupakan
kepentingan ilmu sosial.
Dengan
bahasan diatas menjawab pertanyaan mengapa ilmu tidak dapat dipisahkan dengan
nilai-nilai hidup. Ditegaskan pula bahwa dalam mempelajari ilmu seperti halnya
filsafat, ada tiga pendekatan yang berkaitan dengan kaidah moral atau
nilai-nilai hidup manusia, yaitu:
1.
Pendekatan Ontologis
Ontologi
adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitan dengan
ilmu, landasan ontologis mempertanyakan tentang objek yang ditelaah oleh ilmu.
Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada
daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia.
Dalam
kaitannya dengan kaidah moral atau nilai-nilai hidup, maka dalam menetapkan
objek penelaahan, kegiatan keilmuan tidak boleh melakukan upaya yang bersifat
mengubah kodrat manusia, merendahkan martabat manusia, dan mencampuri
permasalahan kehidupan.
2.
Pendekatan Epistemologi
Epistemologis
adalah cabang filsafat yang membahas tentang asal mula, sumber, metode,
struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu,
landasan epistemologi mempertanyakan proses yang memungkikan dipelajarinya
pengetahuan yang berupa ilmu.
Dalam
kaitannya dengan moral atau nilai-nilai hidup manusia, dalam proses kegiatan
keilmuan, setiap upaya ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran, yang
dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu
dan hak hidup yang berdasarkan kekuatan argumentasi secara individual. Jadi
ilmu merupakan sikap hidup untuk mencintai kebenaran dan membenci kebohongan.
3. Pendekatan
Aksiologi
Aksiologi
adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai
landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu
itu dipergunakan. Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk
kemaslahatan manusia. Dalam hal ini ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau
alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat
manusia, martabat manusia, dan kelestarian atau keseimbangan alam. Untuk itu
ilmu yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komunal dan universal.
Komunal berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, setiap
orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti bahwa
ilmu tidak mempunyai konotasi ras, ideologi, atau agama.
Kemiskinan
Kemiskinan
adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun
sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah
global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif,
sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang
lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
Kemiskinan
dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:
- Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
- Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
- Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna “memadai” di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.
Ciri
Kemiskinan
Apabila kita
amati, mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan memiliki cirri-ciri sebagai
berikut :
- Mereka umumnya tidak mempunyai factor produksi sendiri seperti tanah yang cukup, modal dan keterampilan.
- Mereka tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri. Pendapatan tidak cukup untuk memperoleh tanah garapan atau modal usaha.
- Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai tamat SD atau SLTP. Waktu mereka tersita habis untuk mencari nafkah sehingga tidak ada waktu untuk belajar.
- Kebanyakan mereka tinggal di pedesaan
- Kebanyakan dari mereka yang hidup di kota, masih berusia muda dan tidak mempunyai keterampilan yang mumpuni dan pendidikan yang layak untuk bersaing di kota. Sehingga banyak dari mereka bekerja sebagai buruh kasar, pedagang musiman, tukang becak, pembantu rumah tangga. Beberapa dari mereka bahkan jadi pengangguran atau gelandangan.
Sumber: http://mustainronggolawe.wordpress.com/2012/01/07/ilmu-pengetahuan-teknologi-dan-kemiskinan/
Langganan:
Postingan (Atom)